Refleksi hari Kartini untuk berjuang melawan ketergantungan energy
Oleh: Junaedy Alfan ( Peneliti IT untuk Pendidikan dan Dakwah, 21 April 2026)
www.ufukhijau.com
Pernah nggak sih pas lagi asyik nonton drakor, tiba-tiba… byuur… gelap total? Layar komputer mati, kipas angin berhenti, dan yang tersisa cuma suara nyamuk dan gerutu tetangga: "Mati lampu lagiiii!"
Nah, momen menyebalkan itu, teman-teman, adalah "gelap" dalam versi paling harfiah. Tapi kalau kita mundur ke belakang, sekitar seabad lebih yang lalu, ada seorang perempuan muda di Jepara yang menggunakan kata "gelap" untuk sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia adalah Raden Ajeng Kartini .
Hari ini, 21 April 2026, kita kembali mengenang surat-suratnya yang legendaris. Tapi coba kita pakai kacamata yang sedikit berbeda. Bagaimana kalau jargon "Habis Gelap Terbitlah Terang" itu kita artikan bukan cuma soal emansipasi dan sekolah, tapi juga soal listrik yang nyala terus 24/7?
Gelap Itu Bukan Cuma Minim Cahaya
Buat Kartini, "gelap" adalah belenggu. Ia cerdas, kritis, dan haus pengetahuan, tapi tradisi pingitan memaksanya berhenti sekolah di usia 12 tahun . Gelap baginya adalah kebodohan, ketertindasan, dan jeruji adat yang membatasi perempuan untuk bermimpi. Ia lalu melawan dengan pena. Lewat surat, ia menyalakan lilin kecil yang kemudian menjadi obor besar: "Habis Gelap Terbitlah Terang." Api dalam pikirannya berhasil membakar batasan-batasan itu .
Sekarang bayangkan. Kalau Kartini hidup di zaman sekarang dan tiba-tiba listrik padam saat ia sedang menulis surat penting untuk Stella Zeehandelaar... duh, rasanya pasti sebal setengah mati.
Terang yang Tak Boleh Padam
Kita akui, bangsa ini masih sering bergelut dengan "gangguan teknis". Sejarah kelistrikan kita dipenuhi catatan pemadaman massal yang bikin frustrasi. Sebut saja insiden di 2002 yang sempat bikin Jawa-Bali gelap gulita, atau yang lebih segar di ingatan, blackout 2019 lalu yang bikin 21 juta pelanggan di Jakarta, Banten, dan Jabar terdiam. Waktu itu tagar BlackSunday sampai menggema, dan kita semua cuma bisa pasrah menyalakan lilin atau menyalakan senter HP sambil menghela napas .
Nah, di titik inilah kita butuh "Kartini-Kartini" baru bukan yang melawan adat, tapi yang melawan ketergantungan pada energi fosil yang kadang suka ngadat. Atau pasokan terhambat karena perang nun jauh disana. Kita butuh energi yang tak kenal padam. Kita butuh Matahari.
Energi Surya: "Kartini" di Atap Rumah Kita
Momen Hari Kartini 2026 ini terasa begitu istimewa karena selaras dengan napas baru kedaulatan energi negeri ini. Tepat di bulan April ini, pemerintah bersama PLN dan Asosiasi Energi Surya Indonesia meluncurkan program percepatan 1,3 GW PLTS Atap . Bahkan, Presiden Prabowo memberikan arahan tegas: kita mengejar target ambisius hingga 100 GW energi surya di masa depan, sekaligus mulai mengurangi pelan-pelan pembangkit listrik berbasis diesel yang boros itu .
Coba kita resapi lagi jargon itu: "Setelah terang tak pernah gelap lagi."
Ini bukan imajinasi kosong. Ini soal panel-panel surya yang diam-diam berjemur di atap rumah atau gedung. Ia tak butuh BBM yang harganya naik-turun. Ia tak peduli pohon sengon tumbang atau circuit breaker rusak di gardu. Selama Matahari masih setia terbit walaupun dari barat yang penting bersinar, selama itulah listrik menyala .
Eniya Listiani Dewi dari Kementerian ESDM bahkan menyebut, langkah ini bukan cuma soal listrik, tapi efek ganda yang luar biasa: 760 ribu lapangan kerja baru siap tercipta .
Kartini Modern: Perempuan di Garda Depan Energi Bersih
Ini yang paling keren. Semangat Kartini ternyata benar-benar menitis. Di era transisi energi ini, perempuan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengguna atau penonton. Mereka adalah aktor utama. Di level kebijakan, ada Ibu Eniya Listiani Dewi yang mengawal deregulasi PLTS agar lebih lincah . Di level akar rumput, lihatlah "Srikandi PLN" di Makassar. Mereka bukan cuma duduk manis di kantor, tapi berkonvoi pakai motor listrik di jalanan Benteng Rotterdam, membagikan edukasi energi bersih sekaligus nasi kotak untuk tukang becak .
Bukankah ini jawaban dari doa-doa Kartini? Perempuan yang berdaya, memegang kendali teknologi, dan memberi terang bagi sekitarnya .
Sampai Kapan Kita Mau Gelap?
Jadi, teman-teman, Hari Kartini kali ini adalah undangan. Undangan untuk memastikan bahwa "terbitnya terang" itu tidak berhenti di halaman buku pelajaran sejarah. Energi surya adalah wujud nyata dari kedaulatan. Kita tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar yang sering bikin waswas, tidak lagi rentan terhadap sabotase atau kabel putus.
Kalau Kartini dulu berjuang agar perempuan bisa membaca dan menulis di bawah sinar matahari, tugas kita sekarang sederhana: memastikan lampu belajar anak-anak kita tidak pernah padam lagi.
Karena sungguh, setelah terang itu tiba, untuk apa kita kembali ke gelap? Selamat Hari Kartini 2026. Mari jemput energi abadi dari langit Nusantara.