Kembali ke Artikel

Artikel & Edukasi

Ketika Kampung IT "Hijrah" ke Bogor

Ufuk Hijau Energi Content Writer
Jumat, 25 April 2026
Ketika Kampung IT

Suasana cerah sedikit panas yang tidak umum di Bogor sebagai kota hujan di pagi itu. Sebuah mobil Mazda Biante bernopol AD berhenti di halaman Yayasan Bina Bangsa Sejahtera. Seseorang turun dengan senyum khasnya. Celana bahan gelap, kemeja cream susu lengan panjang, dan peci putih. Dialah Ustaz Junaedy Alfan, lelaki di balik fenomena Kampung IT Solo.

Tidak ada yang menyangka, pertemuan singkat 2 April lalu di Solo akan bermuara ke momentum ini. Waktu itu, jajaran Yayasan BBS yang dipimpin langsung Ketua Umumnya, Prof. Dr. Asep Saepudin, datang dengan niat awal "sekadar" studi inovasi. Tapi seperti kata pepatah, apa yang dimulai dengan sekadar, seringkali berakhir dengan luar biasa.

"Silakan, Pak Ustadz," sapa Prof. Asep pagi itu. 30 menit saja setelah Ustaz Junaedy tiba, sebuah MoU sudah ditandatangani. Tidak pakai seremoni panjang. Tidak ada karpet merah. Tapi keputusan di balik tinta yang membasahi kertas itu: fenomenal.

Sekolah BBS Mau Jadi Apa?

Yayasan BBS memutuskan menduplikasi seluruh ekosistem inovasi Kampung IT ke unit-unit pendidikannya, dari TK sampai SMA. Dan ini bukan soal membeli alat lalu pajang di laboratorium. Bukan. Ini soal membangun ekosistem.

Apa yang membuat Prof. Asep dan timnya tak bisa tidur selepas kunjungan ke Solo? Jawabannya ada pada tiga hal yang sudah berjalan mulus di Kampung IT: implementasi AI dalam pendidikan, IoT dan robotika, serta energi terbarukan. Dan kata kuncinya bukan sekadar "ada", melainkan "terintegrasi".

Di Kampung IT, AI bukan mata pelajaran tersendiri. AI sudah menjadi udara yang dihirup santri dan siswa dalam keseharian belajar. Robotika bukan ekskul pilihan. Ia menjadi cara berpikir. Panel surya bukan pajangan atap. Ia menjadi nadi yang mengalirkan listrik ke seluruh penjuru kawasan.

"Saya ingin apa yang ada di Kampung IT, ada di sini," kata Prof. Asep. Ada nada bergetar dalam suaranya. Bukan karena lelah, tapi karena semangat yang terlalu besar untuk ditampung dalam rongga dada. "Siapa pun yang ingin tahu ada apa di Kampung IT, tinggal lihat saja di BBS."

Kalimat itu pendek. Tapi bobotnya berat.

Listrik Tak Akan Pernah Mati, Walau PLN Padam

Salah satu hal yang paling membekas dari kunjungan tim BBS ke Solo adalah kenyataan bahwa Kampung IT sudah menjadi kawasan mandiri energi. Pembangkit Listrik Tenaga Surya bukan sekadar simbol cinta lingkungan. Ia bekerja. Ia menghidupi. Ia membuat Kampung IT tetap terang ketika wilayah sekitar gelap gulita.

"Ini yang akan kami bawa ke BBS," tegas Prof. Asep. "Implementasi energi terbarukan dengan PLTS akan menjadikan BBS sebagai green school dan lembaga pendidikan mandiri energi. Listriknya tidak akan pernah mati walaupun PLN mati. Terus terang, terus terang!"

Ada senyum kecil dari Ustaz Junaedy mendengar semangat menggebu Prof. Asep. Mungkin dia sudah sering melihat wajah-wajah seperti ini. Wajah orang yang baru saja "tercerahkan" oleh kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tak terbayangkan.

Mengapa Ini Penting?

Sebab ini bukan tentang BBS saja. Kalau berhasil, BBS akan menjadi model untuk Jawa Barat secara umum dan Bogor secara khusus. Dan kalimat "model untuk Jawa Barat" itu bukan kalimat enteng. Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Kalau BBS berhasil menjadi etalase baru dari apa yang sudah dibangun Kampung IT, efeknya bisa ke mana-mana.

Bayangkan: sebuah sekolah di Bogor yang seluruh sistem pembelajarannya ditopang AI. Siswa-siswinya terbiasa menciptakan solusi berbasis IoT dan robotika sejak usia dini. Dan seluruh kompleks sekolahnya dialiri listrik yang bersumber dari matahari. Tidak pakai genset. Tidak bau solar.

Jika ini terjadi, BBS bukan lagi sekolah. Ia adalah prototipe masa depan.

Dari Silaturahmi ke Revolusi

Tulisan ini harus kembali ke titik awal: silaturahmi. Dalam dunia modern yang serba transaksional, Yayasan BBS dan Kampung IT justru membuktikan bahwa kolaborasi besar bisa dimulai dari yang sederhana: berkunjung, melihat, berdiskusi, lalu pulang membawa tekad.

Tanggal 2 April 2026 itu, tim BBS mungkin hanya berniat belajar. Tapi apa yang mereka lihat di Kampung IT Solo ternyata bukan sekadar tontonan. Ia menjadi tamparan halus. Tamparan yang bilang: "Kenapa tidak di sini? Kenapa tidak sekarang?"

Dan 22 hari kemudian, Jumat 24 April 2026, jawabannya sudah ditandatangani.

Ustadz Junaedy Alfan mungkin sudah kembali ke Solo. Tapi apa yang dibawanya sore itu ke Bogor akan tinggal, tumbuh, dan kalau janji Prof. Asep ditepati akan membuat BBS menjadi Kampung IT-nya Jawa Barat.

Bogor bukan lagi kota hujan. Bogor akan segera menjadi kota yang terangnya tak pernah padam.